Sholat Qoshor
Sholat
Qoshor adalah sholat yang diringkas diantara sholat fardhu yang lima,
yang mestinya dilakukan empat roka’at menjadi dua roka’at saja. Dengan
demikian yang bisa diqoshor dari kelima sholat fardhu adalah hanya
dhuhur, ashar dan isya’ sedangkan maghrib dan shubuh tidka bisa
diqoshor, tetap dilakukan sempurna roka’atnya.
Hukum
sholat qoshor adalah boleh, bahkan lebih baik dilakukan bagi orang yang
dalam perjalanan dengan memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana firman
Alloh dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 101 :
“Apabila
kamu berjalan di muka bumi, maka tidak ada halangan bagi kamu
mengqoshor (meringkas) sholat jika kamu takut dibinasakan oleh
orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kamu
yang nyata”
Dalam Hadits juga disebutkan :
“Telah
bercerita Ya’la bin Umaiyah : “ saya telah berkata kepada Umar, Alloh
berfirman “jika kamu takut”, sedangkan sekarang telah aman (tidka takut
lagi), Umar menjawab, saya heran juga sebagai engkau, maka saya tanyakan
kepada Rosululloh, dan Beliau menjawab : Sholat Qoshor itu sedekah yang
diberikan Alloh kepada kamu, maka terimalah olehmu sedeah-Nya
(pemberian-Nya)” (HR. Muslim)
Dalam Hadits lain juga disebutkan :
“Dari
Ibnu Mas’ud Ra berkata : Saya sholat bersama Nabi dua roka’at dua
roka’at, sholat bersama Abu Bakar dua roka’at dua roka’at”.
“Ibnu
Umar Ra berkata : Saya bepergian bersama Nabi, Abu Bakar, Umar. Mereka
melaksanakan sholat dhuhur dan ashar dengan dua roka’at dua roka’at”.
Syarat Sah Sholat Qoshor :
a.
Perjalanan yang dilakukan itu bukan maksiat (terlarang), adakalanya
perjalanan wajib seperti pergi untuk melaksanakan haji atau perjalanan
sunnah seperti pergi untuk bersilaturrahim, ziarah, atau juga perjalanan mubah seperti pergi untuk berdagang.
b.
Perjalanan itu berjarak jauh, yaitu terhitung kurang lebih sekitar
80,640 km atau lebih (perjalanan sehari semalam). Sebagian Ulama’
berpendapat bahwa tidak disyaratkan perjalanan jauh, yang penting dalam
perjalanan jauh ataupun dekat. Sebagaimana dalam hadits disebutkan :
“Dari
Syu’bah, katanya : saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqoshor
sholat. Jawabannya : “Rosululloh SAW, apabila beliau berjalan tiga mil
(80,640 km) atau tiga farsakh (kira-kira 25,92 km), beliau sholat dua
roka’at” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)”.
c.
Sholat yang diqoshor adalah sholat yang adaan (tunai), bukan sholat
qodho’. Adapun sholat yang ketinggalan diwaktu perjalanan boleh diqhosor
kalau memang diqodho dalam perjalanan, tetapi sholat yang ketinggalan
sewaktu mukim tidak boleh diqodho dengan qoshor sewaktu dalam perjalanan.
d. Berniat qoshor ketika takbirotul ihram.
e. Berniat sholat qoshor ketika berada di luar dari desanya.
Sholat Jama’
Hukum sholat jama’ ini diperkenankan bagi orang yang dalam perjalanan dengan syarat-syarat yang tersebut pada sholat qoshor.
Sholat
yang boleh dijama’ hanya antara dhuhur dengan ashar dan antara maghrib
dengan isya’, adapun sholat shubuh tetap wajib dikerjakan pada waktu dan
tanpa dikumpulkan dengan sholat yang lain.
Sholat
jama’ artinya sholat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan adalah dua
sholat fardhu yang lima itu dikerjakan dalam satu waktu, umpamanya
sholat dhuhur dan ashar dikerjakan diwaktu dhuhur atau diwaktu ashar.
Sholat Jama’ ini terbagi atas dua macam dilihat dari pelaksanaan pengumpulan sholat tersebut.
a. Sholat Jama’ Taqdim
Jama’
taqdim adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan ashar
dilakukan pada waktu dhuhur (waktu sholat yang pertama), dan
mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan
pada waktu maghrib (waktu sholat yang pertama). Sebagaimana hadits Nabi :
“Dari
Mu’adz bin Jabal Ra berkata : kami keluar bersama Nabi SAW dalam perang
Ghozwah (perang yang dihadiri oleh Nabi), maka ketika itu Nabi SAW
mengumpulkan sholat dhuhur dengan sholat ashar serta sholat maghrib
dengan sholat isya’…”
Adapun syarat jama’ taqdim ada 3 macam, yaitu :
1.
Diharuskan untuk mengerjakan sholat yang pertama, yaitu seperti
mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar dilakukan pada diwaktu dhuhur
dengan cara mendahulukan sholat dhuhur daripada sholat ashar. Karena waktu tersebut adalah milik sholat yang pertama.
2.
Berniat jama’ pada takbirotul ihram sholat yang pertama atau
ditengah-tengah sholat pertama (menurut qoul Adzhar). Jadi tidak
diperkenankan berniat jama’ setelah salam sholat yang pertama.
3.
Kedua sholat yang dikumpulkan tersebut harus terus menerus (tidak
dipisah), seolah-olah satu rangkaian sholat. Jadi begitu selesai selesai
melakukan sholat yang pertama segera melakukan sholat yang kedua. Kalau
sampai terpisah yang dianggap lama maka bisa dianggap tidak sah sholat
jama’nya.
b. Sholat Jama’ Ta’khir
Jama’
Ta’khir adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan
ashar dilakukan pada waktu ashar (waktu sholat yang kedua), dan
mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan
pada waktu isya’ (waktu sholat yang kedua). Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad SAW :
“Dari
Anas, ia berkata : “Rosululloh SAW apabila berangkat dalam perjalanan
sebelum tergelincir matahari, maka beliau ta’khirkan sholat dhuhur ke
waktu ashar, kemudian beliau turun (berhenti) untuk menjama’ keduanya
(dhuhur dan ashar). Jika telah tergelincir matahari sebelum beliau
berangkat, maka beliau sholat dhuhur dahulu kemudian baru beliau naik
kendaraan” (HR. Bukhori dan Muslim)”
“Dari
Mu’adz : “bahwasanya Nabi SAW dalam peperangan tabuk, apabila beliau
berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau ta’khirkan dhuhur hingga
beliau sholat untuk keduanya (dhuhur dan ashar diwaktu ashar) dan
apabila beliau berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau kerjakan
sholat dhuhur dan ashar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Apabila
beliau berjalan sebelum maghrib, beliau ta’khirkan maghrib hingga beliau
lakukan sholat maghrib beserta isya’, dan apabila beliau berangkat
sesudah waktu maghrib beliau segerakan isya’, dan beliau sholatnya isya’
beserta maghrib” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)”
Adapun Syarat Jama’ Ta’khir :
1.
Berniat di waktu sholat yang pertama bahwa ia akan melaksanakan sholat
yang pertama itu diwaktu sholat yang kedua, supaya ada maksud yang keras
akan melaksanakan sholat yang pertama itu di waktu yang kedua dan tidak
ditinggalkan begitu saja.
2.
Tidak disyaratkan dalam pelaksanaan harus berurutan, dalam artian
misalkan yang dijama’ ta’khir itu adalah sholat dhuhur dan ashar, maka
bebas melaksanakannya apakah yang didahulukan sholat ashar ataukah
sholat dhuhur dulu (dalam waktu luang), kalau waktunya mendekati
pergantian sholat maka yang didahulukan adalah sholat yang mempunyai
waktu itu.
3. Menurut qoul tidak usah niat jama’ ketika dalam melaksanakan sholat karena sudah diniati.
4.
Tidak wajib untuk berturut-turut atau menyambung, jadi setelah
melaksanakan satu sholat tidak disyaratkan untuk melaksanakan sholat
kedua.
Boleh
pula melaksanakan sholat jama’ bagi orang yang menetap (tidak dalam
perjalanan) dikarenakan hujan yang amat deras dengan beberapa syarat
yang berlaku sama dengan syarat jama’ dalam waktu perjalanan. Namun ada
beberapa syarat tambahan yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Disyaratkan hujannya berada diwaktu sholat yang pertama dan diawal sholat yang kedua.
2.
Sholat yang kedua itu berjamaah ditempat yang jauh dari rumahnya, serta
ia mendapatkan kesukaran untuk pergi ke tempet itu karena hujan. (Bagi
orang yang terbiasa sholat berjama’ah).
3. Kondisi hujan dianggap deras ketika melakukan salam sholat yang pertama menurut qoul shohih. (Sholat jama’ taqdim).
4. Disyaratkan hujan tersebut dapat membuat pakaiannya basah kuyup begitu juga sandalnya.
Dan
perlu diketahui pula bahwa sholat dhuhur pada hari jum’at diganti
dengan sholat jum’at, maka dari itu hukum yang berlaku bagi sholat
dhuhur yaitu boleh dijama’ baik taqdim ataupun ta’khir, berlaku pula
bagi sholat jum’at. Dengan demikian sholat jum’at boleh dijama’ beserta
sholat ashar.
Bacaan Niat sholat qoshor :
A. niat shalat qashar jama' Taqdim dan Ta'khir ? baik dari Dzuhur ke Ashar
atau sebaliknya dari Ashar ke DzuhurUshalli fardhu (ddhuhri/l’ashri/lmaghribi/l’isya’i) Jam’an, Taqdiiman (atau Ta’khiiran) lillahi ta’ala
aku niat shalat fardhu dhuhur /asar/magrib/isya jamak taqdim
(digabungkan dan didahulukan / diakhirkan dari waktunya), karena Allah
ta’ala
B. Niat shalat Maghrib dan Isya'; dan
dikerjakan diwaktu Isya' atau Maghrib? ( misalnya shalat Isya'
terlebih dahulu kemudian niat shalat Qadha Maghrib) :
Ushalli
fardhuddhuhri/l’ashri /l’isya’I (tidak ada Qashr untuk shalat maghrib)
Taqdiiman (atau Ta’khiiran) Qashran lillahi ta’ala
“aku niat shalat fardhu dhuhur /asar /isya jamak taqdim (digabungkan dan
didahulukan dari waktunya/ diakhirkan waktunya), karena Allah ta’ala
Niat shalat dalam perjalanan dengan Qashar tanpa jamak :
Ushalli fardhuddhuhri/l’ashri /l’isya’I (tidak ada Qashr untuk shalat maghrib) Qashran lillahi ta’ala.
Aku niat shalat fardhuddhuhri/l’ashri /l’isya’I (diringkas dari 4 rakaat
menjadi dua rakaat /qashran dan tak ada qashran untuk subuh dan magrib)
Yaitu Qashar tanpa jamak, ia shalat dhuhur atau asar atau isya tetap
pada waktunya, tidak dijamak, namun ia meng Qasharnya, hal ini boleh,
karena Jamak tidak mesti Qashar, dan Qashar tak harus jamak.
Tentunya syaratnya
adalah perjalanan lebih dari marhalatain (82km) bagi Qashar atau Jamak
Qashar, dan perjalanannya bukan perjalanan maksiat, atau makruh,
perjalanan untuk maksiat telah jelas, perjalanan untuk hal yg makruh
misalnya menjual kafan atau peti mati, hal ini makruh, atau perjalanan
demi membeli / menjual barang barang makruh, atau perjalanan makruh
lainnya.
Dan perjalanan keluar dari wilayahnya sudah boleh jamak, tanpa qashar.
namun lafadh itu tadi sunnah hukumnya dan bukan merupakan rukun shalat, yg wajib ada adalah niatnya walau dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar